Apa itu Reksadana

Apa itu Reksadana
image decription

Reksadana ada dasarnya merupakan media investasi kolektif. Dikatakan kolektif karena uang masyarakat dikumpulkan secara kolektif oleh perusahaan pengelola investasi (Manajer Investasi – MI). Uang Anda kemudian ditanamkan tidak ke dalam satu saham saja tetapi sejumlah instrument investasi (saham, deposito, obligasi dll) pada berbagai perusahaan dan bisnis yang berbeda pula.

Dengan demikian, masing-masing produk reksadana memiliki beberapa tempat berinvestasi yang berbeda, sesuai jenis produk tersebut. Dengan kata lain, reksadana dapat menjadi cara praktis berinvestasi saham di banyak perusahaan sekaligus, dengan modal minim. Karena saham merupakan bentuk kepemilikan suatu bisnis, maka saat berinvestasi di reksadana saham, masyarakat juga sekaligus sudah memiliki bisnis, sesuai dengan penempatan investasasi reksadana yang dibelinya. Misalnya saat Anda membeli reksadana yang menanamkan saham di PT Astra International, PT Indofood, PT Telkom, PT Bank Mandiri…dst, maka Anda sebagai investor sebetulnya sudah ikut memiliki dan menikmati potensi keuntungan dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Menabung saat ini sudah tidak menarik/cocok untuk tujuan investasi karena tingkat pengembalian (return) yang rendah, bahkan lebih rendah dari rata-rata inflasi tahunan. Tabungan semata bermanfaat untuk menyimpan uang, bukan untuk berinvestasi. Sementara untuk bertransaksi saham, tidak semua orang memahaminya atau memiliki waktu untuk melakukan analisa. Pada saat berinvestasi saham, nasib investasi Anda ditentukan oleh nasib perusahaan yang Anda beli sahamnya. Sementara dalam investasi reksadana, investor tidak perlu repot karena semua ditangani oleh perusahaan Manajer Investasi (MI). Nah, perusahaan Manajer Investasi (MI) sendiri merupakan perusahaan pengelola investasi yang mendapat izin resmi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk mengumpulkan dan menginvestasikan uang masyarakat.

Dana yang tertanam di reksadana tersebar di berbagai instrumen investasi, sehingga resiko dan keuntungannya ditentukan oleh banyak faktor. Misalkan produk reksadana yang Anda beli menanamkan dananya di 20 perusahaan yang berbeda, maka ketika nilai saham salah satu 2 atau 3 perusahaan diantaranya turun, Anda tidak perlu terlalu kuatir karena kemungkinan nilai ‘saham’ Anda di belasan perusahaan lainnya nilainya tetap atau malah naik. Selain itu, reksadana memungkinkan Anda mulai berinvestasi saham dengan nilai nominal kecil. Dulu membuka investasi reksadana diperlukan dana ratusan juta rupiah. Akan tetapi saat ini, pemerintah mendorong masyarakat berinvestasi. Mulai dengan dengan Rp100ribu, Anda sudah bisa mulai berinvestasi reksadana, sekaligus berinvestasi di banyak perusahaan.